Tak Sengaja Itu Sering Lebih Bermakna, Tapi Tidak Untuk Semua Dunia

NEWS31 Dilihat
banner 468x60

Oleh: H. MUHAMMAD NAZAR

Usai shalat magrib tadi, Rabu, 12 Juli 2023 di salah satu mesjid kawasan Darussalam Kota Banda Aceh, secara kebetulan kami bertemu sahabat yang pernah seperjuangan, Aliman Selian. Ia juga termasuk salah satu pendiri SIRA (Sentra Informasi Referendum Aceh) awal tahun 1999 dulu.

Waktu terus berjalan dan dinamika tanpa henti menggeliat bergerak serta berubah hingga ke aktifitas masing-masing anak manusia. Dan profesi setiap pribadi-pun harus berbeda. Realitas dunia itu memang harus berbeda. Bahkan dalam surga dan neraka di hari akhirat kelak sekalipun, kelas-kelas para penghuni di dalamnya tergantung karya dan amal masing-masing manusia.

Tuhan memang sengaja menciptakan kehidupan ini harus berwarna. Sebahagiannya dapat dipahami dan sebahagian yang lainnya belum diketahui sama sekali. Atau bahkan sebahagiannya seperti berjalan samar-samar, sehingga akal dan rasa manusia sering sangat suka mencurigai, lalu mengetuk palu vonis sendiri tanpa kompromi.

Tetapi ketahuilah, setidaknya dan ini memang hal yang paling penting, bahwa perbedaan dalam hal apapun, mulai dari alam, isinya, gerakannya, karakternya hingga profesi manusia itu adalah sesuatu yang dapat menunjukkan dengan pasti jika Tuhan itu wajiblah satu saja.

Ia Pencipta dan Perekayasa yang berkuasa tak terbatas dengan kehendak-Nya, tanpa membutuhkan apapun dan siapapun selain diri-Nya sendiri.

Pertemuan kami dengan sahabat lama Aliman Selian dan beberapa kawan lain tadi memang tak sengaja sama sekali.

Itu hanyalah sesuatu yang tak sengaja di mata kami di mata kita manusia. Namun hal sedemikian rupa sudah pasti merupakan sesuatu yang disengaja oleh Tuhan yang tak boleh satu koma— Allah SWT Al- Wahid Al- Qahhar Al- Qadir Al- Muqtadir.

Kejadian silaturahmi yang tak sengaja seperti itu-pun sangatlah berarti, begitu sarat makna.

Semuanya terjadi dengan pembicaraan singkat yang berkualitas dan penuh makna. Karena dari kehendak Tuhan, hal itu memang sengaja harus terjadi meskipun tak disengaja dalam rencana, pikiran dan hati manusia.

Dari mesjid itu pula, akhirnya pertemuan kami yang terjadi tiba-tiba tersebut melangkah ke sebuah warung kopi yang sangat dekat dengan mesjid tempat kami baru saja telah melakukan shalat berjamaah.

Seperti diketahui pula dan ini memang selalu nyata, bahwa mesjid-mesjid tidaklah sering penuh di waktu-waktu shalat jamaah rutin meskipun sebahagian warga Aceh sangat bangga dengan kata ‘Islam’ dan ‘Syariat’. Sedangkan warung-warung kopi, apapun namanya dan brandingnya yang tak harus menentukan waktu ketat itu— tetap saja selalu penuh dan ramai.

Warung kopi dan kafe di Aceh memang selalu menjadi tempat bertemu dan banyak yang bahagia walau harus menyingkirkan penampakan rasa yang tidak selalu suka cita yang sedang dialami anak-anak manusia.

Sebaran begitu banyak warung kopi dan kafe itu juga, seperti halnya kehadiran banyak rumah tembok, kendaraan sepeda motor, mobil hingga perangkat teknologi informasi dan sosial media sampai ke pelosok-pelosok desa di Aceh— harus diakui— lumayan mampu menenggelamkan informasi kemiskinan dan problematika lainnya yang sedang dialami Aceh sebagai yang tertinggi persentasenya di pulau Sumatra.

Informasi kemiskinan Aceh tersebut, dalam setahun, hanya datang beberapa kali saja di media massa dibandingkan perputaran uang yang terjadi setiap detik di warung kopi hingga dunia properti, perdagangan dan jual beli benda-benda. Meskipun kemiskinan itu wajib diakui memang nyata. Ada yang mengalami kemiskinan material dan harta benda serta ada pula di saat yang sama cukup banyak yang sengaja memelihara kemiskinan moral dan mental untuk terus menerus mendapatkan bantuan dengan data-data.

Juga informasi media dan kenyataan kemiskinan itu belum mempan menjadi cambuk yang efektif untuk melahirkan kebijakan dan strategi yang tepat keluar darinya, selain tuding menuding sesaat dan seketika yang sudah pasti terjadi— mengikuti arus informasi dan gosip pembangunan dari berbagai media yang juga sering muncul sesaat saja, lalu hilang lagi entah kemana.

Entah solusi perbaikan keadaan dan strategi keluar dari masalah kemiskinan yang suka digosipkan tiba-tiba dan sesaat itu harus pula lahir secara tak sengaja, seperti pertemuan dan silaturahmi biasa anak-anak manusia yang tadi kami jalani penuh makna. Sementara suatu negeri itu seyogyanya dirancang dan dibangun mencapai kemajuan serta peradabannya haruslah dengan sengaja.

Jangan salahkan Tuhan jika ada manusia, rakyat dan suatu negeri mengalami kemiskinan. Dia telah sengaja menjadikan mereka sebagai para khalifah untuk memimpin dan mengelola di bumi, termasuk mencari kelebihan dan kekayaan dengan kekuatan akal, jiwa dan hati (sumber daya manusia) serta ketersediaan anugerah alam. Lalu mereka memproduksinya dan memanfaatkannya untuk kebaikan mereka, tanpa merusak apapun.

Tuhan Yang Ghaniy Mughniy itu dengan cara-Nya dan dengan sengaja tidak memiskinkan manusia.

Minimum, Dia memberikan kecukupan kepada manusia dan bahkan sebahagian mereka sengaja dianugerahkan kekayaan luar biasa seperti dinyatakan dalam ayat suci-Nya:

وَأَنَّهُۥ هُوَ أَغْنَىٰ وَأَقْنَى

Artinya: Dan bahwasanya Dia yang memberikan kekayaan dan memberikan kecukupan. (QS. Al-Najm, Ayat 48)

Kesalahan manusia sendiri yang datang dari diri mereka sendiri seperti persoalan ilmu, budaya dan sistim yang mereka rancang dan terapkan dapat menciptakan kemiskinan yang merajalela. Jadi, letak kesalahan tidak berada pada Tuhan mereka.

Ingat pula! Merasa dan mengakui diri sedang menerapkan syariat-Nya tidak dapat menjadi solusi keluar dari kemiskinan sama sekali. Sebaliknya, jika penerapan syariat Islam itu sekedar sampul dan simbol agar disebut telah syar’i, tanpa mentransmisikan (penyebar-luasan) dan tanpa melakukan insersi (penempatan) nilai keislaman yang sesunguhnya dalam setiap lini kehidupan dan pembangunan, maka ia selalu menjadi tertuduh, menakutkan dan bahkan ia sedang mengusir niat baik manusia.

Namun, Tuhan tetap menyayangi manusia yang sengaja atau tidak, telah merekayasa kemiskinan dengan tangan mereka sendiri dan lalu tertimpa kepada diri mereka sendiri hingga menjalar ke manusia lainnya dan negeri mereka. Tuhan menyatakan dan mengajarkan dengan tegas seperti ini:
وَوَجَدَكَ عَآئِلًا فَأَغْنَىٰ

Artinya: Dan Dia mendapatimu sebagai seorang yang kekurangan, lalu Dia memberikan kecukupan. (QS. Al- Dhuha, Ayat 8)

Kesimpulannya, ajaran Tuhan melalui agamanya yang benar, yaitu Islam memang telah memberitahukan dan mengajarkan nilai paling prinsipil, jika kaya itu adalah sesuatu yang sangat mulia yang datang dari-Nya.

Sekaligus ia adalah juga cobaan yang dengannya harus menjadi jalan menuju surga. Kaya itu memang mulia dan menjadikan pemiliknya mulia di mata manusia serta di mata Tuhan jika ia diperoleh, dikelola, dinikmati dan dikeluarkan sesuai hukum dan keinginan-Nya. Sehingga keadaan mampu dan kaya itupun menjadi salah satu persyaratan kewajiban berhaji bagi seorang muslim.

Katakanlah, sampai era apapun dalam kehidupan manusia, kaya itu adalah mulia jika telah memahami jalan menerimanya, mengurusnya hingga mengeluarkannya/ memanfaatkannya.