BRA Harus Bertransformasi Jadi Badan Resolusi Konflik

banner 468x60

Kabar Jino | Banda Aceh – Ketua Badan Reintegrasi Aceh (BRA), Jamaluddin, mengatakan lembaga yang dipimpinnya tidak boleh berhenti sebatas menjalankan misi reintegrasi pascakonflik. Namun ia berharap bisa bertransformasi menjadi Badan Resolusi Konflik Aceh yang fokus menyuarakan rekonsiliasi dan perdamaian.

“BRA tidak hanya berperan dalam proses reintegrasi, tetapi harus berkembang menjadi lembaga resolusi konflik. Di beberapa negara, badan serupa bahkan berubah menjadi institusi pendidikan,” kata Jamaluddin dalam kunjungan resmi BRA ke Sekolah Pascasarjana Universitas Syiah Kuala (USK), Banda Aceh, Rabu, 17 September 2025.

Baca Juga : Bahas Ketahanan Energi dan Investasi, Wagub Aceh Sambut Kunker Komisi VI DPR RI

Kunjungan perdana BRA tersebut membahas tindak lanjut kerja sama antara BRA dengan Sekolah Pascasarjana USK melalui Memorandum of Agreement (MoA), serta perjanjian implementasi kerja sama (Implementation Agreement/IA) dengan Program Studi Magister Damai dan Resolusi Konflik (MDRK).

Dalam sambutannya, Jamaluddin menekankan pentingnya “manajemen pikiran” dalam menjaga perdamaian Aceh. Menurutnya, pembangunan pascakonflik tidak semestinya hanya mengutamakan infrastruktur, tetapi juga harus menyentuh aspek pendidikan dan pemberdayaan anak korban konflik serta eks kombatan.

Baca Juga : Pelindo Kembali Masuk Daftar Fortune Indonesia 100

“Peluang afirmasi dari USK untuk mahasiswa MDRK harus dimanfaatkan agar anak-anak korban konflik bisa memperoleh pendidikan yang layak,” ujarnya.

Diskusi BRA dengan Sekolah Pascasarjana USK melahirkan lima kesepakatan penting. Di antaranya: peluang afirmasi pendidikan bagi korban konflik dan eks kombatan, dorongan transformasi BRA menjadi Badan Resolusi Konflik Aceh, inisiatif pendirian laboratorium memorial hingga Museum Konflik Aceh, kesempatan magang mahasiswa MDRK di BRA, serta pertukaran sumber daya manusia antar-institusi.

Baca Juga : Subulussalam Genap 63 Tahun, Wakil Gubernur Aceh Pimpin Upacara Peringatan

Wakil Direktur Bidang Akademik Sekolah Pascasarjana USK, Mhd. Ikhsan Sulaiman, menyambut baik arah kerja sama tersebut. Ia menilai sinergi perguruan tinggi dan BRA menjadi kekuatan strategis untuk menjaga perdamaian Aceh, terutama setelah 20 tahun lebih perjanjian damai Helsinki.

Kegiatan ini turut dihadiri jajaran deputi BRA, staf sekretariat, unsur pimpinan Pascasarjana USK, hingga dosen dan staf akademik. Pertemuan ditutup dengan penyerahan plakat dan foto bersama.

Komentar