Panas Dingin Hubungan Marcos Jr dan Sara Duterte

Dulu Sekutu Kini Berseteru

banner 468x60

KabarJino | Manila – Hubungan antara Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. atau Bongbongdengan wakil presidennya, Sara Duterte, kian panas. Pada Sabtu, 23 November 2024, Sara Duterteyang merupakan anak eks presiden Rodrigo Duterte mengatakan bahwa dia akan membunuh Presiden Ferdinand Marcos Jr jika dia sendiri yang terbunuh. Pernyataan kontroversial ini mendorong kantor Marcos Jr bersumpah untuk segera mengambil tindakan yang tepat.

Sebelum berseteru, Sara Duterte dan Bongbong Marcos adalah sekutu. Mereka disumpah sebagai presiden dan wakil presiden pada 2022. Berikut rekam jejak perjalanan hubungan Duterte dan Marcos:

Partai Rodrigo Duterte Dukung Marcos Jr di Pilpres

Partai Rodrigo Duterte, ayah Sara Duterte yang merupakan presiden Filipina sebelumnya, pernah menyatakan dukungan untuk Bongbong Marcos pada Maret 2022. Ketua partai LDP-Laban Alfonso Cusi tidak menyebutkan apakah dukungan partai terhadap Marcos itu berarti bahwa Presiden Duterte sendiri mendukung Marcos.

Marcos Jr. Dituduh Ingin Ubah Konstitusi

Ketegangan antara Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr. dan Rodrigo Duterte meningkat pada Januari 2024. Mantan Presiden tersebut menuduh Marcos Jr. dan sekutunya di lembaga legislatif berencana mengamandemen konstitusi untuk menghapus batasan masa jabatan.

Baca Juga : Seorang Warga Kluet Utara Diamankan Polres Aceh Selatan

Sementara Duterte mengecam tindakan tersebut dan mengingatkan bahwa hal itu bisa mengakibatkan nasib serupa dengan ayah Marcos, yaitu mendiang diktator Ferdinand Marcos. Duterte juga menuduh Marcos sebagai pengguna narkoba.

Anak Rodrigo Duterte Sebut Marcos Jr. Malas

Putra mantan pemimpin Filipina Rodrigo Duterte mendesak Presiden Ferdinand Marcos Jr untuk mengundurkan diri pada Januari 2024. Pernyataan itu menandakan keretakan dua keluarga yang berkuasa ini kian tajam. Keretakan muncul karena kebijakan antinarkoba dan luar negeri Marcos Jr. yang berbeda jauh dengan saat Rodrigo Duterte berkuasa.

Dilansir dari Reuters, Sebastian Duterte, yang merupakan wali kota kota Davao, Filipina mengatakan telah terjadi peningkatan kejahatan setelah kampanye garis keras ayahnya dilonggarkan. Dalam sebuah forum, ia juga menuduh Marcos membahayakan warga Filipina yang tidak bersalah dengan mengizinkan warga Amerika masuk. Ia merujuk pada perluasan akses AS ke pangkalan militer, termasuk beberapa pangkalan yang dekat dengan Taiwan. Ayahnya, Rodrigo Duterte telah menjalin hubungan yang lebih erat dengan Cina.

Sebastian Duterte juga menentang keputusan Marcos untuk memulai kembali perundingan perdamaian dengan pemberontak komunis. Ia mengatakan Marcos Jr. tidak tahu apa pun tentang penderitaan orang-orang yang tinggal di daerah yang dulunya merupakan basis pemberontak.

“Kalian pemalas dan tidak punya belas kasihan. Itulah sebabnya kami tidak bahagia,” katanya.

Sara Duterte Mundur dari Kabinet

Pada Juni 2024, Sara Duterte mengundurkan diri dari jabatannnya sebagai Menteri Pendidikan dan jabatan penting lainnya. Namun ia tak mundur dari jabatan wakil presiden.

Baca Juga : Direktur RSUD Munyang Kute Redelong Buka Pelatihan

Marcos telah menerima pengunduran diri Duterte dari jabatan menteri pendidikan dan wakil ketua satuan tugas antipemberontakan, menurut Sekretaris Komunikasi Kepresidenan Cheloy Garafil dilansir dari Reuters.

Sara Duterte mengatakan dalam konferensi pers bahwa pengunduran dirinya bukan karena kelemahan tetapi karena perhatian yang tulus terhadap guru dan kaum muda.

Filipina Izinkan ICC Periksa Rodrigo Duterte

Pemerintah Filipina mengatakan tidak akan menghalangi jika mantan Presiden Rodrigo Duterte ingin menyerahkan diri ke Mahkamah Kriminal Internasional. Eks Presiden Duterte terbelit kasus akibat perang melawan narkoba yang digagasnya.

Menurut Reuters, dalam sidang kongres yang dilaksanakan pada Rabu, 13 November 2024, mengenai tindakan keras berdarah terhadap narkotika yang menewaskan ribuan warga Filipina, Duterte yang temperamental mengatakan dia tidak takut dengan ICC. Ia mendesak agar penyelidikannya tentang kemungkinan kejahatan terhadap kemanusiaan yang dilakukannya agar dipercepat.

Kantor Presiden Ferdinand Marcos Jr mengeluarkan pernyataan beberapa jam kemudian yang menunjukkan pihaknya bersedia mempertimbangkan penyerahan Duterte jika permintaan Interpol diajukan.

Baca Juga : Pj Wali Kota Lhokseumawe Pimpin Apel Siaga Linmas

“Pemerintah akan merasa berkewajiban untuk mempertimbangkan red notice sebagai permintaan yang harus dihormati, dalam hal ini lembaga penegak hukum domestik harus terikat untuk memberikan kerja sama penuh,” kata Sekretaris Eksekutif presiden Lucas Bersamin.

Menurut data kepolisian, lebih dari 6.200 orang tewas dalam operasi antinarkoba di bawah Duterte. Kelompok hak asasi manusia meyakini jumlah korban sebenarnya jauh lebih besar. Ribuan pengguna dan pengedar kecil narkoba tewas dalam keadaan misterius oleh penyerang tak dikenal.

Komentar