Kabar Jino | Jakarta – Setiap tahun ribuan mahasiswa di Indonesia lulus dari perguruan tinggi dengan harapan besar bisa mendapatkan pekerjaan yang layak.
Namun di situasi saat ini, di tengah tren pemutusan hubungan kerja (PHK) yang meningkat dan banyak perusahaan harus gulung tikar, membuat para lulusan Sarjana (S1) harus berperang untuk bisa melamar ke perusahaan.
Billy, salah satu alumni ITB mengaku merasakan kesulitan dalam mencari pekerjaan. Setelah dia lulus dari jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota tahun 2024, Billy sempat menjadi pekerja lepas alias freelance.
Baca Juga : Rp 6,8 Triliun dan Pecahan Mata Uang Asing di Sita Kejagung
Namun lantaran ingin memiliki pekerjaan yang pasti, dia memutuskan mencari pekerjaan lain.
“Tapi ternyata tidak mudah, cukup merasakan kesulitan dalam mencari pekerjaan formal, sudah lamar di LinkedIn, Jobstreet sudah dicoba tapi masih belum dapat juga,” ujarnya kepada Kompas.com di Jakarta belum lama ini.
Hal ini juga diamini oleh Pranuju lulusan S1 dari Universitas Bangka belitung. Pranuju mengaku cukup sulit baginya untuk mendapatkan pekerjaan.
Sebab tantangannya adalah lapangan pekerjaan yang dibuka juga tidak sebanyak dengan kebutuhan.
“Sudahlah jumlah lowongan yang tersedia sedikit, belum lagi persyaratan yang diminta oleh perusahaan itu banyak jadi memang sulit,” ujarnya.
Baca Juga : Pakistan Tembak Jatuh 5 Jet India, Balas Serangan Rudal
Sementara itu, Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Bidang Ketenagakerjaan Bob Azam menyatakan jumlah lapangan pekerjaan cukup banyak dibuka di Indonesia. Namun yang menjadi masalahnya adalah jumlah yang masuk ke pasar kerja pun juga cukup tinggi.
“Tahun ini saja ada hampir 3 juta lapangan pekerjaan yang dibuka tapi yang masuk ke pasar kerja dan membutuhkan pekerjaan itu ada sebanyak 4 juta orang. Belum lagi ada PHK yang membuat lulusan baru harus berebut dengan mereka,” jelasnya.
Azam menilai hal inilah yang menjadi tantangan bagi pemerintah agar bukan hanya fokus pada PHK yang semakin banyak tapi bagaimana bisa menciptakan lapangan pekerjaan.
Sementara ihwal PHK, Bob bilang, bukan hanya Indonesia saja yang mengalaminya namun hampir semua negara. Dia mencontohkan seperti Singapura.
Namun Singapura jauh sebelum melakukan PHK, mereka sudah mempersiapkan para pekerjanya dengan memberikan pelatihan-pelatihan.
“Ini yang harus kita perbaiki, kita selama ini terlalu konsentrasi terhadap PHK-nya tapi tidak pada bagaimana membuka lowongan kerja atau melupakan bagaimana cara menciptakan lapangan kerja itu sendiri,” jelasnya.
Baca Juga : 36 Orang Korban Tewas, India vs Pakistan Perang di Perbatasan
Sementara itu Kepala Badan & Pengembangan Ketenagakerjaan Kemnaker Anwar Sanusi mengungkapkan bahwa hingga saat ini jumlah pengangguran sudah menyentuh angka sekita 7 juta. Sementara setiap tahunnya jumlah angkatan kerja terus bertambah.
Untuk itu pemerintah, kata dia, telah menyiapkan pusat pasar kerja yang menjadi penghubung untuk memudahkan para pencari kerja dengan perusahaan yang membutuhkan karyawan.
“Kemnaker sudah menginisiasi lembaga pusat pasar kerja, di sini kita ingin jadi hub antara suplai dan demand. Target kami yang sifatnya penyiapannya dalam hal ini melalui instrumen pelatihan ada 1 juta pelatihan,” kata dia.












Komentar