Berbahasa di Bulan Puasa

By. Dr. Maulizan Z.A

PENDIDIKAN, SASTRA2 Dilihat
banner 468x60

Kabar Jino –  Buah Tangan, Umar bin Khattab r.a. sangat menekankan pentingnya menjaga lisan dengan berpikir sebelum berbicara dan lebih memilih diam jika ucapan tidak bermanfaat. Bulan puasa, khususnya di bulan Ramadan, bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia juga menjadi momentum untuk menahan lisan, memperhalus tutur kata, dan memperbaiki cara kita menyapa serta berbicara kepada sesama. Dalam konteks ini, cara berbahasa di bulan puasa seharusnya mencerminkan nilai kesabaran, empati, dan penghormatan.

Menurut saya, bulan puasa adalah ujian bagi orang beriman untuk mengendalikan diri yang paling nyata dalam kehidupan sehari-hari. Ketika tubuh lelah dan perut kosong, emosi lebih mudah terpancing. Justru di sinilah kualitas tutur sapa kita Allah uji. Termasuk Sapaan sederhana sekalipun penting untuk kita perhatikan sebelum berucap, karena sapaan bukan hanya sekadar basa-basi, hendaknya mengandung doa dan bentuk perhatian kepada saudara kita yang kita sapa. Kata-kata yang lembut mampu menjadi penyejuk di tengah kondisi fisik yang mungkin sedang menurun.

Selain itu, bulan puasa mengajarkan kita untuk lebih peka terhadap perasaan orang lain. Tidak semua orang menjalani puasa dengan kondisi yang sama, ada banyak saudara kita yang harus tetap bekerja keras di lapangan, ada yang sedang sakit, bahkan ada yang sedang menghadapi masalah pribadi. Cara kita menyapa seharusnya mempertimbangkan situasi tersebut. Hindari candaan berlebihan tentang rasa lapar atau haus, apalagi nada bicara yang tinggi dan menyudutkan. Bulan suci semestinya menjadi ruang untuk memperbanyak empati, bukan memperuncing emosi.

Di era media sosial, cara bertutur sapa juga meluas ke ruang digital. Komentar, unggahan, dan pesan singkat tetap mencerminkan akhlak kita. Bulan puasa seharusnya menjadi momen untuk mengurangi ujaran kebencian, sindiran tajam, dan perdebatan yang tidak bermanfaat. Sebaliknya, kita harus mampu memanfaatkan media sosial untuk saling mendoakan dalam kebaikan, menyebarkan ucapan baik, motivasi, dan pesan positif yang menguatkan sesama.

Pada akhirnya, cara kita berbahasa di bulan puasa adalah cerminan kualitas ibadah kita. Menahan lapar mungkin terlihat oleh orang lain, tetapi menjaga lisan adalah bentuk ketakwaan yang lebih dalam. Jika selama satu bulan penuh kita mampu membiasakan diri berbicara dengan santun, penuh hormat, dan empati, maka nilai puasa tidak berhenti pada ritual, melainkan berlanjut menjadi karakter dalam kehidupan sehari-hari.

Komentar