Misteri Kapal Bajak Laut “Flor de la Mar”

Bawa Emas 60 Ton Dan Karam Di Laut Aceh

NEWS, PENDIDIKAN60 Dilihat
banner 468x60

Kabarjino | Banda Aceh –  Sampai hari ini, ada legenda kapal asing yang mengangkut emas karam di perairan Indonesia. Kapal Portugis itu bernama Flor de la Mar, dan dia dinahkodai oleh pelaut hebat seperti Estevao da Gama. Kapal pembawa emas 60 ton hasil rampokan itu tiba-tiba karam di dasar lautan saat melintasi laut Indonesia. Terutama selama perjalanan melalui lautan Aceh.

Perjalanan legenda ini bermula pada tahun 1502. Tempat pertama kapal Flor de la Mar adalah di Lisboa, Portugal. Kapal ini berukuran 400 ton dan panjangnya 36 meter. Kapal itu dapat menampung lima ratus pelaut dan lima puluh senjata. Kapal Flor de la Mar dianggap sebagai kapal terbesar di Eropa pada masanya. Oleh karena itu, Flor de la Mar menjadi kapal utama dalam ekspedisi lautan Portugis.

Baca Juga : Toni Tamsil Terdakwa Obstruction of Justice Kasus Timah Rp300 Triliun Divonis 3 Tahun Penjara

Untuk menemukan rempah-rempah dan mengeksplorasi wilayah India, perjalanan pertama kapal tersebut adalah ke India. Nahkodanya adalah Estevao da Gama, sepupu Vasco da Gama, pelaut terkenal. Flor de la Mar mengalami kerusakan selama berlayar di Mozambik; namun, masalah itu tidak signifikan karena kapal kembali berlayar ke India. Setelah berhasil, kapal tersebut diminta untuk menaklukkan Malaka lagi.

Pada saat itu, Malaka dianggap sebagai pusat perdagangan rempah-rempah, tetapi akhirnya diketahui bahwa rempah-rempahnya berasal dari Maluku. Flor de la Mar juga sampai di Malaka pada tahun 1511. Di sana, harta yang disita Portugis diangkut oleh kapal bertugas. Pada saat itu, armada Portugis yang dipimpin oleh Alfonso de Albuquerque menyerang Sultan Mahmud dari Kesultanan Malaka. Serangan tersebut diikuti dengan perampasan paksa properti.

Baca Juga : Aceh Kantongi Dua Emas dan Satu Perak di Cabang Paramotor

Flor de la Mar kemudian mengangkut barang-barang tersebut. Tercatat bahwa kapal itu membawa 60 ton emas. seperti yang dikutip oleh Amirul Hadi dalam bukunya yang berjudul Respon Islam terhadap Hegemoni Barat (2006). Dalam tulisannya, Amirul menyatakan bahwa harta benda yang ada di kapal adalah harta benda terharga yang pernah dimiliki Portugis sejak mereka tiba di India. Kapal Flor de la Mar dikawal oleh kapal pengiring kecil selama perjalanannya dari Malaka ke India.

Ini pasti dilakukan untuk mencegah bajak laut merampok kapal tersebut. Seluruh kapal Flor de la Mar berlayar menuju jalur badai yang sangat dahsyat di hari kedua pelayaran, meskipun sudah dipastikan aman dari bajak laut. Badai dan ombak terus datang. Sebenarnya, setiap kapal layar berputar, bahkan jika seluruh kapal dicatat memiliki kelebihan.

Baca Juga : Ada Ledakan di Rumah Calon Gubernur Aceh, Bustami Hamzah

Kapal yang membawa lebih banyak barang daripada kapasitasnya segera tenggelam ke dasar laut. Dalam To the Ends of the Earth: The Age of the European Explorers (2015), Peter O. Koch mengatakan, “Membawa serta seluruh awak kapal dan semua harta berharga yang dikandungnya.” Bencana itu menyebabkan Flor de la Mar tidak hanya rusak parah tetapi juga karam. Dilaporkan bahwa kapal menghantam terumbu karang di perairan Pedir di daerah Pidie, Aceh Barat, dekat Pulau Sumatera. Tidak ada yang berhasil menyelamatkan 60 ton emas itu dari badai. Semua orang, termasuk pimpinan pelayaran Alfonso de Albuquerque, bergegas untuk menyelamatkan diri.

Peter O. Koch menyatakan, “Ini adalah ekspedisi yang ditakdirkan untuk menunjukkan sifat serakah.” Emas 60 ton masih menjadi misteri hingga hari ini. Namun, karena sifatnya yang tahan air, itu jelas masih ada hingga hari ini. Namun, lokasinya pasti berbeda dari tempat kapal karam. Hingga saat ini, belum ada pemburu harta karun yang menemukannya.