Para Pemimpin Eropa Kecam Pernyataan dan Tindakan Elon Musk

KabarJino | Kanselir Jerman – Olaf Scholz, menjadi salah satu dari sejumlah pemimpin Eropa yang paling merasakan serangan Elon Musk di media sosial.

Musk, miliarder teknologi pemilik X, menyebut Scholz sebagai “orang bodoh yang tidak kompeten” dan mendesaknya untuk mengundurkan diri dari jabatan. Kamis (9/1/2025), Musk akan menggunakan platformnya untuk mengadakan pembicaraan panjang dengan Alice Weidel, pemimpin partai ekstrem kanan Jerman, AfD, yang dikenal anti-imigran.

“Anda harus tetap tenang,” kata Scholz. “Jangan memberi makan troll itu.” Scholz hendak mengatakan, jangan memberikan perhatian kepada Musk yang mencoba memprovokasi, karena perhatian justru akan membuatnya semakin aktif.

Baca Juga : Kejutan Apa yang Dilakukan Ahok dan Anies? Ini Kata PDIP

Walau beberapa pemimpin Eropa, terutama Giorgia Meloni dari Italia, menyukai Musk, yang lain merasa sulit untuk mengabaikannya. Pasalnya, dia mulai terjun ke dunia politik dalam negeri mereka menjelang peran barunya sebagai penasihat Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.

Macron hingga Starmer Kecam Musk

Dalam waktu 24 jam, empat pemerintahan di Eropa keberatan dengan postingan Musk di media sosial.

“Sepuluh tahun lalu, siapa yang akan percaya, jika kita diberitahu bahwa pemilik salah satu jejaring sosial terbesar di dunia akan mendukung gerakan reaksioner internasional yang baru dan melakukan intervensi langsung dalam pemilu, termasuk di Jerman?” katanya.

Perdana Menteri Norwegia, Jonas Gahr Store, juga turut memberikan pendapatnya. Store mengatakan, dia merasa “khawatir seseorang dengan akses besar terhadap jejaring sosial dan sumber daya ekonomi yang signifikan terlibat begitu langsung dalam urusan dalam negeri negara lain”.

Juru bicara pemerintah Spanyol, Pilar Alegría, mengatakan platform digital seperti X harus bertindak dengan “netralitas mutlak dan yang terpenting tanpa campur tangan apapun”.

Baca Juga : Biaya Haji 2025 yang Dibayar Jemaah Diusulkan Rp 65 Juta

Dalam beberapa hari terakhir, Musk telah menulis banyak postingan yang menyerang Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer, dan pemerintahannya terkait geng-geng yang memanipulasi anak-anak dan eksploitasi seksual terhadap anak-anak di Inggris.

“Mereka yang menyebarkan kebohongan dan informasi palsu sejauh dan seluas mungkin sesungguhnya tidak peduli pada para korbannya, mereka hanya peduli pada diri mereka sendiri,” kata Starmer, tanpa menyebut Musk secara langsung.

Dua pengecualian di Eropa adalah Italia dan Hongaria. Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, telah membina hubungan baik dengan Elon Musk dan menyebutnya sebagai “jenius” dan “inovator luar biasa”.

Perdana Menteri Hongarian, Viktor Orban, yang bertemu Musk saat mengunjungi Trump di Mar-a-Lago bulan lalu, memiliki kebencian yang sama seperti Musk terhadap filantropis berhaluan liberal kelahiran Hongaria, George Soros.

Musk Dukung Partai Ekstrem Kanan Jerman

Namun intervensi miliarder teknologi itu dalam politik Jerman menjadi yang paling kontroversial, karena pemilu akan segera digelar.

Dia telah beberapa kali melontarkan dukungan terhadap AfD dalam beberapa pekan terakhir, dan menulis artikel yang sangat kontroversial di Welt am Sonntag di mana dia menyebut AfD sebagai “percikan harapan terakhir” bagi Jerman.

Musk membenarkan intervensinya ketika itu dengan alasan ada investasi finansial perusahaannya, Tesla, di Jerman. Dia mengatakan, penggambaran AfD sebagai ekstrem kanan dan ekstremis “jelas salah”, karena Alice Weidel memiliki pasangan sesama jenis asal Sri Lanka.

Badan keamanan Jerman telah melabel AfD sebagai kelompok ekstrem kanan atau terduga ekstremis dan pengadilan telah memutuskan bahwa AfD mempunyai tujuan yang bertentangan dengan demokrasi.

Meskipun Olaf Scholz berusaha untuk tetap tenang, kandidat kanselir dari Partai Hijau, Robert Habeck, lebih blak-blakan: “Jangan urusi demokrasi kami, Mr Musk.”

Pemimpin Partai Liberal FDP, Christian Lindner, berpendapat bahwa tujuan Musk mungkin untuk melemahkan Jerman demi kepentingan AS, “dengan merekomendasikan untuk memilih partai yang akan merugikan kita secara ekonomi dan mengisolasi kita secara politik”.

Baca Juga : Tugu Aneuk Mulieng Sigli Diresmikan

Mantan kepala agenda digital Komisi Eropa, Thierry Breton, melalui X pada akhir pekan lalu memperingatkan Alice Weidel, calon kanselir dari AfD, bahwa obrolan yang disiarkan langsung (live chat) pada hari Kamis dengan Musk akan memberi “keuntungan yang signifikan dan berharga dibandingkan pesaing-pesaing Anda”.

Komisi Eropa mengatakan, tidak ada peraturan Layanan Digital UE yang melarang siaran langsung, atau siapapun yang mengungkapkan pandangan pribadi.

Namun, seorang juru bicara memperingatkan bahwa para pemilik platform tidak boleh memberikan “perlakuan istimewa”. X milik Musk sudah berada dalam penyelidikan dan UE mengatakan siaran langsungnya itu akan menjadi bagian dari penyelidikan tersebut.

Punya Kepentingan Bisnis

Meskipun Musk telah terbuka dalam mengomentari politik Jerman, dia juga memperluas kepentingan bisnisnya di Italia. Giorgia Meloni baru saja melakukan perjalanan untuk makan malam bersama Donald Trump di Mar-a-Lago ketika muncul laporan bahwa Italia sedang dalam pembicaraan dengan SpaceX milik Musk untuk menandatangani kesepakatan senilai 1,6 miliar dolar. Kesepakatan itu akan memungkinkan satelit Starlink dari SpaceX bisa menyediakan layanan internet terenkripsi dan telekomunikasi untuk Italia.

Kesepakatan itu tampaknya belum final dan Roma dengan cepat membantah adanya kontrak yang telah ditandatangani.

Baca Juga : Kata Wamendiktisaintek Stella Tentang Riset dan Pembangunan Aceh

Musk mengatakan pada Senin bahwa dia “siap memberikan Italia konektivitas yang paling aman dan canggih” – tanpa mengonfirmasi bahwa kesepakatan telah tercapai.

Namun gagasan bahwa Starlink dapat dipercaya untuk menjaga komunikasi pemerintah Italia sudah cukup menimbulkan kekhawatiran di kalangan sejumlah politisi oposisi di Roma.

“Menyerahkan layanan sangat sensitif semacam itu kepada Musk saat dia mensponsori kelompok ekstrem kanan di Eropa, menyebarkan berita palsu dan ikut campur dalam politik internal negara-negara Eropa tidak bisa menjadi pilihan,” kata pemimpin berhaluan tengah Carlo Calenda.